pindah ke www.musisigereja.com

Blog ini sudah dipindahkan ke www.musisigereja.com

Vocal Group Gereja

Dari dulu saya menghindari untuk membawa-bawa nama agamama untuk berbagi cerita di blog ini:-) Karena musik adalah sebuah hal yang universal, nyaris ga ada batas dan ruang dalam musik.

Tapi untuk kali ini, perkenankan saya sedikit bercerita tentang vocal group. Walaupun contohnya adalah lagu Gereja, tapi mudah2an Anda bisa menarik kesimpulan dan intisari dari tulisan saya berikut ini.

Hari Sabtu kemarin (7Feb09), saya mendapat teman baru lagi dari blog ini. Kami kontek via telpon, sms dan email. di akhir pembicaraan, kami menyinggung soal paduan suara dan vocal group di gereja beliau, yang kebetulan beliau juga ikut aktif pada pelayanan di gerejanya. Dalam pembicaraan tersebut, sampailah pada cerita, bahwa beliau minta dibuatkan sequence song MIDI untuk mengiringi lagu-lagu paduan suaranya. Dan karena SAYA TIDAK PUNYA PARTITURNYA, saya minta dikirimin.

Nah, ini inti permasalahannya : SAYA TIDAK PUNYA PARTITUR LAGU-LAGU PADUAN SUARA/VOCAL GROUP GEREJA.

Kalaupun ada, belum sampai pada 50 lagu…he..he…he…

Apa yang menarik dari permasalahan ini?????

Gereja-gereja di daerah seperti Kerinci ini, punya kendala akses dan update atas perkembangan-perkembangan informasi. Beruntung saat ini, akses internet sudah mulai masuk ke tiap rumah di daerah kami. Walaupun, sebagian besar menggunakan koneksi internet lelet GPRS, seperti yang saya gunakan saat ini. Tapi puji Tuhan, masih bisa internetan..he..he..he…he…daripada tidak sama sekali, betulllll????

Dalam kaitannya dengan paduan suara atau vocal group gereja, kami yang di daerah seperti ini, sangat susah mencari dan mendapatkan partitur-partitur tambahan untuk lagu-lagu paduan suara dan vocal group. Yah….paling-paling, pada saat ada yang keluar kota, baru bisa nyeker dari tempat lain. Itupun kalau ada yang di kenal:-)

Yang bikin patah semangat, ada beberapa partitur copyan yang saya dapat, disitu ditulis : “Dilarang menduplikat dan menyanyikan lagu ini, tanpa izin tertulis dari…………” he..he…he…he…he…..exclusive yah….wkwkwkwkwkwkwk…. jika membaca tulisan seperti ini, telintas di benak saya : “karya2 komponis top aja, bebas di pake oleh siapa aja…wkwkwkwkwk….”. tapi yah, itu hak yang membuat sih… kita ga bisa apa-apa.

Kalo dapat partitur dengan “warning” seperti ini, saya lihat dulu siapa pengarang lagunya, kalo itu pengarangnya dari deretan komponis dunia, yah…..bodo amat…..langsung aja saya copy….wkwkwkwkkw peace…….!!!! Tapi kalo saya ga pernah dengar nama si penulis lagunya, yah….tong sampah udah menunggu di depan mata, untuk apa di simpan, kl ntar, nyanyiin aja bisa kena pasal:-D

Itu sekilas yang terjadi pada kami yang berada di daerah-daerah seperti ini.

Melihat dan merasakan “fenomena” seperti ini, dulu saya makin semangat belajar mengaransemen lagu-lagu paduan suara dan vocal group. Mulai dari yang sangat sederhana sampai yang sedikit tidak sederhana…:-) seingat saya, pada saat SMP, saya udah mulai mengaransemen dan di nyanyikan oleh kaum Bapak dan Ibu di gereja kami. Yah…..walaupun arransemennya ngaco, lumayanlah….setidaknya ada lagu baru yang bisa di nyanyikan. Begitu seterusnya, arransemen dan arransemen, nyaris setiap hari saya belajar tentang hal ini. Guru besar saya adalah Bapak (ayah) saya sendiri. Beliau begitu telaten menurunkan ilmu ini kepada saya. Salah satu not, jitak satu kali……wkwkwkwkwk….ga deh…becanda….!!!!

Setelah 2 tahun, yang mungkin, Bapak saya mengannggap saya sudah mulai mampu, saya di lepas sendirian. Pemain organ/piano di gereja, tinggal saya sendiri. Dirigen untuk paduan suara, saya sendirian juga. Padahal dulunya, masih ganti2an sama Bapak saya. Itu berlanjut sampai sekarang.

Awal cara saya ngaransemen, saya hanya membuat arransemen harmoni suara Alto, Tenor dan Bass yang tegak lurus sama Soprannya (pada masa mendatang, saya tulis tentang cara mengaransemen suara Alto Tenor Bass ini). Berlanjut terus dan saya mulai berani membuat SATB (Sopran, Alto Tenor Bass) yang berjalan sendiri-sendiri tanpa harus selalu mengikuti batang lagunya. Berlanjut terus, saya mulai mencoba untuk accapella sederhana. Berlanjut terus dan belajar terus sampai saat ini, dan belum ketemu titiknya.

Itu tentang pengalaman paduan suara. Nah di vocal group, saya berurusan sama rekan-rekan sebaya yang pada umumnya, “buta” baca tulis notasi. Wew……he..he..he…!

Kawan-kawan saya biasanya hanya mencontek dari kaset, contek habis2an, dan nyanyikan rame-rame. Begitu yang terjadi. Mungkin banyak rekan-rekan di gereja lain juga demikian.

Semangat bernyanyi sangat kuat, tapi referensi untuk bernyanyi sangat kurang. Itu yang terjadi, dan benar-benar terjadi. Walaupun kaset yang di nyanyikan itu adalah lagu yang dinyanyikan penyanyi solo, bodo amat….yang penting contek dan nyanyi. Ga pake suara 2, suara 3, juga ga masalah.

Apakah itu salah????? Ya jelas tidak. Apalagi kalo konteksnya, bernyanyi di gereja. Yang pernting pelayanannya dan ketulusan hatinya toh.

Tapi…….bagaimana kalau koleksi kaset sudah habis ????? jalan satu-satunya adalah menyanyikan lagu dari buku-buku nyanyian gereja. (sekedar info buat rekan-rekan yang belum tau. Gereja di lengkapi dengan buku-buku nyanyian pokok yang selalu di nyanyikan saat ibadah dilaksanakan). Tapi…..lagi-lagi….dinyanyiin dengan lurus-lurus aja. Unisono dan persis kayak biasanya. Apakah ini juga salah???? Ya ngga lah….he..he..he…he….!!!!! yang penting, pelayanannya.

Saya juga berada di dalam kelompok kawan-kawan yang saya ceritakan ini. Dan pernah merasakan sebuah “kejenuhan” akan hal ini.

Sampailah pada suatu saat, saya lupa kapan persisnya, saat itu saya mendengar sebuah lagu dari kaset lama (saya juga lupa siapa penyanyi dan titel kasetnya). Di kaset tersebut, ada 1 lagu barat yang menyanyikan sebuah lagu gereja dan di nyanyikan dengan sangat indah. Berbeda dari konsep paduan suara yang pernah saya dengar. Saya simak lagu tersebut. Dari mendengar, saya prediksi, yang menyanyikan lagu tersebut sebanyak 5-6 orang penyanyi. Di nyanyikan dengan santai dan ringan (bukan accapella). Nah……ini pencerahan baru buat saya.

Setelah mendengar itu, mulai terbersit keinginan saya untuk mempelajari hal ini, supaya dapat dinyanyikan oleh vocal group gereja kami. Tapi…….lagu apa yang mau di obark abrik???? Nah….bingung lagi…..he..h.e…he…he…

Sempat bingung dengan hal ini, akhirnya saya buka buku nyanyian gereja (Kidung Jemaat), nyanyi sendirian sambil main gitar. Sampe sekarang, kl lagi suntuk masih sering begini…he..he…he..!! saat nyanyi2 tersebut, terlintas lagi di benak saya, lagu barat yang saya dengar tersebut. Nah…..mulai semangat….lagu Kidung Jemaat yang saya nyanyiin waktu suntuk tersebut, mulai saya karang backing vocalnya. Karang sehancur mungkin:-)

Mulai kelihatan bentuknya. Makin semangat nyoba-nyoba bikin arransemennya. Dan selesai sudah….!!!!

Pada hari berikutnya, saya undang beberapa teman untuk berlatih lagu tersebut. Ternyata……ga segampang yang saya bayangkan. Teman-teman kagok dan bingung waktu berurusan dengan backing vokalnya, perlahan saya latih lagi, setelah beberapa hari, semuanya bisa, dan di nyanyikan pada saat ibadah di gereja.

Teman-teman lain yang ga saya ajak dan Bapak Ibu jemaat lumayan surprise mendengar pujian dengan format seperti ini. Berbagai dukungan di berikan kepada kami. Dan rekan-rekan yang lain juga tambah semangat untuk ikut berlatih.

Pada latihan-latihan berikutnya, tetap saya terapkan metode lisan aja. Kasih contoh dan latih perlahan-lahan. Begitu seterusnya. Ini karena kawan-kawan saya belum bisa baca tulis partitur.

Saya berpikir dan mencari ide, bagaimana metode latihan yang paling efektif selain cara lisan ini…..teringat oleh saya, bahwa kawan-kawan sangat cepat kalo yang namanya mencontek kaset….nah…ini dia solusinya.

Dengan teknologi paling canggih….he..he…he….saya rekam lagu-lagunya, hanya dengan menggunakan sebuah tape recorder yang 2 deck (punya 2 slot untuk memasukkan kaset).

Cara pertama :

– Saya rekam suara sopran dari awal sampai akhir, dengan diiringi gitar.

– Setelah itu, saya rekam satu persatu backing vokal dan suara-suara lainnya, dengan di iringi satu kaset yang udah berisi suara gitar dan sopran tadi.

Begitu seterusnya, harus pake 2 kaset, bolak balik setelah isi satu suara, putar lagi, lalu isi lagi. Hasilnya………noise (berisik/berangin) dimana-mana…he..he…he…

Tapi dengan kaset itu, kawan-kawan jadi tambah mudah mengerti sebuah lagu dan arransemennya. Paling-paling mereka akan bertanya kalo ada bagian suara yang kurang jelas. Sangat efektif daripada metode lisan tersebut.

Itulah kecanggihan teknologi yang saya miliki (milik ortu) pada saat itu. Puji Tuhan, walaupun begitu, bisa jadi media kami untuk belajar disini.

Dan puji Tuhan, beberapa tahun terakhir, saya udah punya komputer sendiri, dan beberapa perangkat lainnya. Dan contoh lagu untuk latihan pun, bisa di buat lebih matang dan ga banyak noisenya:-)

Saya bongkar-bongkar beberapa folder, dan ketemu 1 lagu yang udah cukup lama saya rekam. Sekitar 1-2 tahun lalu. Lagu ini di ambil dari lagu Kidung Jemaat no.415 “Gembala Baik Bersuling Nan Merdu”. Semua yang berbunyi saya isi dan rekam sendiri. Seperti biasanya, saya ga peduli soal kualitas, karena ini untuk bahan latihan aja.

Vokalnya hancur-hancuran, karena saya emang ga bakat nyanyi. Musiknya juga hancur-hancuran, karena ilmu musik saya juga masih kampungan.

Ini dia contoh lagunya, silahkan di klik :

MP3 – KJ.415 “GEMBALA BAIK BERSULING NAN MERDU”

😀😀😀😀😀😀😀😀😀😀😀😀😀😀😀😀😀

Terima kasih buat teman yang menelpon saya hari Sabtu kemaren, membuat saya teringat akan masa-masa ga enak dulu..he..h.e…he..he… rasanya ga cukup-cukup halaman ini untuk saya tulis pengalaman-pengalaman saya. Terima kasih dan selamat melayani. Jangan lupa sampaikan salam saya buat teman-teman disana.

Kalo ada yang baca dan sempat dengar lagunya, silahkan di komentari.

Salam

ANTONI PASARIBU

20 Maret 2010 - Posted by | Vocal Group Gereja

1 Komentar »

  1. Bravo Pak Anton,

    memang kalau ngajarin orang yang nggak bisa baca not yah beitulah,…kita nyanyiin suara tenor apa basnya, mereka harus mendengarnya,..kalo mereka bisa ndenger lagu nidji dan terus hapal,…kenapa belajar lagu baru nggak bisa,..ya…, maka begitulah kita ngelatihnya,….sekarang kita udah bisa ngerekam suara pake wave auditor dan bisa di format ke mp3, sehingga untuk ngajarin suara alto, tenor, bas tinggal nyalain bluetooth,..dan mohon dipelajari di rumah,…lebih cepat dan praktis,…emang ngga mendidik sihh,…tapi yang pentingkan inti dari pelayanannya itu,…semoga sukses selalu dalam pelayanan musik kepada Tuhan Yesus…

    Komentar oleh suseno w | 19 Juli 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: