pindah ke www.musisigereja.com

Blog ini sudah dipindahkan ke www.musisigereja.com

Sejarah Perkembangan Musik Rohani

I. Sebelum Masa Kristus

Pada dasarnya manusia merupakan makhluk religius walaupun ia sering ingkar janji. Dalam kehidupan manusia terdapat suatu kesadaran akan adanya suatu makhluk yang mahakuasa. Sekalipun suku bangsa yang paling primitif pun merupakan makhluk religius ketika ia mencoba untuk menggenapi kewajibannya terhadap kuasa yang tak kelihatan itu. Sejak permulaan sejarah musik. selalu menjadi suatu hubungan yang unik dengan pengalaman ibadah manusia.

Ada banyak bukti mennnjukkan bahwa kebudayaan Mesir, salain satu kebudayaan yang paling awal, menggunakan musik secara intensif dalam upacara ritual religius, Orang Mesir memiliki banyak instrumen musik, dari sistrum sampai harpa dengan 12 atau 13 senar. Tak diragukan lagi, Yunani, yang kebudayaannya tak kalah pentingnya memperoleh pengetahuan tentang musik dan prakteknya dari orang-orang Mesir.

Orang Yunani sangat banyak menggunakan musik dalam upacara keagamaan mereka dan menyatakan bahwa musik mempengaruhi moral dan emosi manusia dan menganggap musik berasal dari dewa-dewa. mereka.

Walaupun bangsa Ibrani, menggunakan musik dalam ibadah mereka kepada Yehova, namun musik tidak pernah dikembangkan seperti bangsa Yunani. Orang Ibrani, tidak Seperti orang Yunani, tidak menghubungkan musik dengan moralitas. Bagi orang Ibrani, seni yang dianggap penting kalau bila dipakai untuk memuja dan memuji Yehova.

Sebagian besar yang kita ketahui tentang ibadah orang Ibrani ada dalam kitab Perjanjian Lama. Di dalamnya kita mendapati sejumlah besar acuan yang membuktikan pentingnya musik vokal dan instrumental dalam ibadah orang Ibrani. Kata musik pertama-tama tertulis dalam Kejadian 4:21, di mana Yubal disebutkan sebagai “bapa, semua orang yang memainkan kecapi dan suling”. Dalam Kitab. Suci ada kira-kira 13 instrumen yang berbeda, yang disebutkan, yang dapat diklasifikasikan sebagai instrumen dengan senar, instrumen tiup atau perkusi. Ada sejumlah penyanyi dan lagu disebutkan dalam Perjahjian Lama, misalnya: Lagu Miriam (Keluaran 15:20-21) Lagu Musa (Keluaran 15:2) Lagu Debora dan Barak (Hakim-Hakim 5:3) ` Lagu ucapan Syukur Hana (1 Samue12:1-10) Lagu ueapan syukur dan pelepasan dari kejaran Saulus yang dinyanyikan Daud (II Samuel 22)

Semua kata yang berkenaan dengan musik, pemusik, instrumen musik, lagu, penyanyi dan nyanyian disebutkan 575 kali dalam seluruh isi Alkitab. Acuan yang berkaitan dengan musik didapati dan 44 dari 66 kitab dalam, Alkitab. Kitab Mazmur yang terdiri dari 150 pasal, dianggap berasal mula dari sebuah kitab yang berisi nyanyian.

Dengan jatuhnya Yerusalem di bawah kekuasaan Daud dan ditempatkannya kemah suci di kota itu, ibadah yang dilakukan menjadi semakin semarak dan dilengkapi dengan pagelaran musik. Suku Lewi ditugaskan untuk memberikan pelayanan musik dan memimpin ibadah ini. Di bawah kepemimpinan Daud paduan suara dan orkestra besar pertama dikelola untuk dipakai sebagai bagian dari ibadah di kemah suci.

Ketika Salomo, anak Daud, menjadi raja dan membangun Bait Allah yang pertama, semarak,pagelaran musik menjadi semakin agung Yosephus, sejarawan Yahudi yang terkenal, menulis bahwa dalam Bait Allah yang pertama ada 200.000 peniup terompet dan 200.000 penyanyi berjubah yang dilatih untuk ikut serta dalam ibadah ini. II Tawarikh pasal lima memberikan laporan tentang hadirnya sejumlah besar penyanyi dan instrumen musik, dalam ibadah tersebut:

Setelah kembali dari tampat pembuangan di Babel, ibadah di Bait Allah kembali dilaksanakan, dengan pembangunan Bait Allah, yang kedua. Walaupun yang kedua ini tidak seindah yang pertama, namun jelas bahwa pagelaran musik merupakan bagian dari ibadah orang Ibrani. Kitab Talmud Yahudi menjelaskan tradisi menyanyikan mazmur dalam Bait Allah kedua.

II Kelahiran Yesus Kristus

Dengan datangnya era baru, yaitu kelahiran Yesus Kristus, suatu semangat dan motif baru, yang tak dikenal oleh orang Mesir, Yunani,; Romawi dan Yahudi, rnelanda kesadaran beragama. Ini merupakan suatu kesukacitaan karena memiliki hubungan secara pribadi dan akrab dengan Allah melalui pribadi dan karya keselamatan Anak-Nya, Yesus Kristus ibadah tidak lagi terbatas pada Bait Allah atau rumah ibadat, tetapi setiap orang percaya menjadi bait bagi Allah yang hidup. Ini tidaklah sema dengan demonstrasi yang semarak dan berirama yang dikumandangkan agama-agama purba: Ini merupakan sukacita disertai dengan ibadah kepada Pribadi Kristus.

Walaupun sebagian besar ibadat umat Kristen dilakukan secara rahasia karena penindasan pemerintah Romawi, namun tidak dapat disangkal musik sudah menjadi ekspresi natural bagi sukacita kristiani. Sejarah gereja mencatat bahwa banyak martir yang menghadapi kematian sambil mendendangkan lagu pujian tentang Juruselamat mereka. Kita melihat bahwa musik digunakan secara ekstensif sejak zaman awal para rasul dan masa gereja pasca para rasul dan kita dapat membacanya dalam Efesus 6:19, Kolose 3:16, Kisah Para Rasul 16:25, den Yakobus 5:13.

Memang benar bahwa sumber utama, baik pada zaman Yudaisme kuno dan orang Kristen yang mula-mula, ialah mazmur. Namun, selain itu kita juga mendapati nyanyian Maria, Magnificat – Lukas 1:46-55; nyanyian Zakharia, Benedictus —Lukas 1:68-79; nyanyian para malaikat, Gloria in Exelsis . Lukas 2:14; nyanyian Simeon, Nunc Dimittis — Lukas 2:29; nyanyian Yesus – Matius 26:30. Nyanyian lain dalam Perjanjian Baru ialah nyanyian Paulus dan Silas dalam Kisch Para Rasul 16:25, dan nyanyian orang-orang tertebus dalam Wahyu 14:3 dan 15:3. Musik gereja Kristen yang mula-mula kebanyakan vokal, dengan sedikit perhatian terhadap pemakaian instrumen.

Dengan diizinkannya kekristenan berkembang di bawah pemerintahan Konstantin Agung, organisasi yang sederhana dari gereja, para rasul lambat laun berkembang menjadi suatu sistem liturgi dan ibadah yang kompleks. Pada masa inilah St. Ambrose dari Milan banyak mendorong jemaat agar banyak memuji Tuhan. Akan tetapi lambat laun, para pengikut perorangan semakin sedikit memperoleh porsi dalam ibadah sementara pendeta memegang seluruh rincian liturgi, termasuk puji- pujian dalam ibadah.

III. Abad Pertengahan

Seribu tahun berikutnya, meliput kurun waktu dari abad keempat sampai kepada periode Renaissance-Reformasi, yang biasa disebut sebagai Abad Pertengahan, atau Abad kegelapan oleh para sejarawan. Lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para imam merupakan perkembangan musik gereja yang paling penting dari abad keempat sampai keenam. Asal mula sebenarnya dari lagu-lagu ini tidak diketahui. Pemimpin musik yang terkenal saat itu ialah St. Gregory Agung yang hidup menjelang akhir abad keenam. Lagu-lagu gereja pada masa ini sering disebut sebagai “Lagu- Lagu Cregoriari.

Abad ketujuh sampai masa Renaissance-Reformasi menyaksikan banyak aktivitas dan perkembangan musik yang penting Liturgi untuk misi dibuat dan ditetapkan Liturgi ini terdiri dari dua bagian utama: Misa umum dan berjenis-jenis bagian sebuah misi. Misa umum tergantung pada penekanannya. Jenis-jenis misi lainnya juga dikembangkan pada masa ini. Liturgi dari misa-misa ini penting karena memberikan struktur-struktur musikal bagi banyak komposisi paduan suara, baik oleh orang Katolik maupun Protestan, selama berabad-abad. Salah satu contohnya ialah B. Minor Mass karangan Bach.

Abad pertengahan ini juga menandai bertumbuhnya harmoni, yang semakin maju dari nyanyian bersama menjadi mengharmoniskan dua atau lebib suara kepada satu suara melodi utama. Bagian-bagian melodi utama ini, yang dikenai sebagai cantus firmus, secara umum dipinjam dari lagu-lagu gereja yang mula-mula. Alat-alat polifonik dan untuk mengiringi lagu digunakan dalam musik ini mencapai hasil yang sempurna melalui musik duu komposer terbaik dari lagu rohani sepanjang zaman, yaitu Palestine dari abad keenam belas dan J.S. Bach, 1685-17b0.

IV. Periode Renaissance Reformasi

Periode berikutnya yang penting dalam sejarah ialah periode Renaissance-Reformasi dari tahun 1450 sampai 1600. Periode ini ditandai dengan bangkitnya perhatian dalam aktivitas intelektual dan seni. Dalam arti religius, Reformasi, yang mencapai klimaksnya oleh Martin Luther dengan “95 Tesis pada Pengakuan Augsburg” pada tahun 1517, sangat panting baik secara teologis maupun secara musikal bagi seluruh pengikut aliran ini. Pada masa itu orang-orang Kristen menyadari kebenaran dari suatu hubungan pribadi dengan Allah melalui iman di dalam Yesus Kristus saja.

Adalah wajar bila dengan hadirnya kesukacitaan baru timbullah keinginan untuk mengekspresikan penyembahan dan pujian. Jemaat menyanyikan lagu-lagu pujian dan paduan suara merupakan suatu kekuatan dalam gerakan baru ini. Baik teman-teman maupun musuh Luther mengatakan bahwa ia memperoleh lebih banyak petobat barn melalai. pemanfaatan dan dorongan nyanyian jernaat daripada yang dilakukannya melalui khotbah Luther sendiri mengatakan bahwa musik merupakan pemberian Allah yang paling baik dan agung di dunia.

John Calvin dan El-ich Zwingli juga menyadari pentingnya nyanyian jemaat walaupun tidak seintensitas Luther. Calvin menyarankan agar musik diajarkan di sekolah sehingga mereka dapat belajar menyanyikan mazmur di sana dan akibatnya, dapat menyanyi dengan baik dalam ibadah d hari Minggu. Karena para reformator merasa bahwa hanya lagu- lagu dengan latar belakang Kitab Sucilah yang tepat untuk ibadah, maka hanya versi metrikal dari mazmur yang dipakai di gereja beraliran reformasi dan dinyanyikan bersama. Clement Marot merupakan tokoh . penyanyi mazmur metiikal pads mase itu dan kitab nyanyian Mazmur yang paling panting ialah Kitab Nyanyian Mazmur Jenewa, yang diterbitkan pada tabun 1562.

V. Ahad Ketujuh Belas

Pada masa ini di Inggris kaum Puritan menjadi musuh utama gereja Anglikan. Mereka menuduh bahwa gereja sudah tidak murni lagi berafiliasi dengan gereja Roma. Mereka berusaha untuk mengurangi jatah ibadah sesederhana mungkin, selain membentuk pemerintahan gereja yang lebih demokratis. Kaum “Puritan berkembang di bawah pemerintahan yang lemah, tetapi bila pemerintahan, kuat, pengaruh mereka semakin memudar.

Praktek-praktek golongan Puritan yang menentang tata cara ibadah terutama disebabkan oleh ajaran Bohn Calvin. Sering, para pengikutnya menjadi lebih fanatik daripada pemimpinnya sendiri: Sebagai pengikut Calvin, mereka menerima isi Alkitab sebagai dasar semua aturan, hanya menerima nyanyian mazmur metrikal dinyanyikan bersama, menolak paduan suara, dan organ gereja, dan mereka memakai taktik yang, radikal dan kejam untuk mencapai cita-cita mereka. Ini merupakan lembaran hitam dalam sejarah gereja. Pada masa itu banyak tempat ziarah kuno dihancurkan, kaca-kaca berwarna dipecahkan, ornamen dihancurkan, perpustakaan dan organ gereja juga ikut dimusnahkan.

Dengan terjadinya restorasi hukum Stuart, Charles II dan penetapan kembali liturgi gereja Anglikan, berkembanglah suatu bentuk musik; yaitu nyanyian gereja yang diambil dari Kitab Suci (anthem).

Bentuk modern dari anthem dalam bahasa Inggris banyak dipengaruhi oleh. salah satu komposer Inggris – yang terkenal, Henry Purell. Anthem dalam bentuk nya yang sekarang merupakan campuran dari motet kuno dan kantata Jerman.

VI. Abad Kedelapan Belas

Abad kedelapan belas sudah siap menerima nyanyian pujian baru dari Isaac – Watts, 16741748, yang sering disebut sebagai “Bapak Lagu Pujian” dan musik: penggerak jiwa dari keluarga Wesley.

Isaac Watts menggunakan lagu pujiannya untuk meringkaskan khotbahnya dan mengekspresikan teologi Calvinistiknya. Ia percaya sepenuhnya bahwa karena lagu pujian merupakan persembahan kepada Allah, maka setiap orang harus menyanyikannya sendiri. Jika nyanyian mazmur harus dipakai menegaskan bahwa nyanyian itu harus dikristenkan dan dipermodern. Beberapa hasil karyanya ialah: “When I Survey the Wondrous Cross”, “Jesus Shall Reign Wherever the Sun”.

Gerakan Wesleyan merupakan percikan api yang menimbulkan kebangunan rohani beser-besaran di Inggris. Mereka berjuang melawan agnostisisme dan lagu-lagu yang diperkenalkan oleh keluarga Wesley merupakan suatu faktor penting daiam kebangunan rohani tersebut. John sebagai pengkhotbah dan Charles sebagai pemusik menulis dan menerjemahkan 6500 lagu pujian, walaupun sebagian besar kini sudah tak terpakai lagi. Teologi mereka menentang penekanan pada “pilihan” dari ajaran Calvin. Mereka menggubah lagu pujian mengenai hampir seluruh tahapan dalam pengalaman kristiani dengan penuh kehangatan dan keyakinan. Abad kedelapan belas juga menghasilkan bentuk lain dari musik rohani, yaitu oratorio. Walaupun Heinrich Schuitz dan kemudian J.S. Bach telah menggubah banyak musik drama yang dikenal sebagai Passion Music, yang menggambarkan penderitaan Kristus, namun George Frederick Handel, 1686-1759, yang pertama menulis musik dramatis rohani dalam bahasa Inggris. Oratorionya yang paling terkenal, The Messiah, pertama kali dipagelarkan di Irlandia pads taun 1742. Komposer oratorio lain yang terkenal ialah: Franz Joseph Haydn yang menciptakan The Creation dan Felix Mendelssohn yang menciptakan The Elijah.

VII: Abad Kesembilan Belas

Sementara kebanyakan penulis lagu pujian pada abad ke-17 dan 18 membuat komposisi musik yang sarat dengan keyakinan doktrin mereka, para penggubah lagu pujian abad ke-19 banyak dipengaruhi oleh semangat abad Romantik yang berniat memperbaiki kualitas literatur dari lagulagu pujian. Salah satu kompo ser lagu pada malam ini ialah Reginald Heber yang menciptakan lagu “Kudus, Kudus, Kudus”.

Pada tanggal 14 Juli J833 suatu gerakan religius baru muncul di Inggris dengan sebutan Gerakan Oxford atau Trac tarian. Gerakan ini berusaha menegakkan suatu ibadah yang lebih saleh dengan khidmat dengan penggunaan musik dalam kebaktian. Gerakan ini mempertahankan teori gereja yang universal dan rasuli, seperti yang diajarkan oleh Kristus sendiri. Gerakan ini memberi banyak pengaruh kepada gereja-gereja Protestan dengan dibentuknya paduan suara anak-anak, penggunaan jubah, dan praktek ritualistik rumit lainnya, seperti penggunaan lambang, arak-arakan, dan nyanyian di akhir kebaktian.

VIII. Nyanyian Rohani di Amerika Serikat

Di AS, para pendatang baru menggunakan nyanyian mazmur yang dipakai mereka di Inggris, dengan pikiran bahwa Allah akan tersinggung bila me reka menggunakan iagu pujian lain yang tidak sesuai dengan apa yang ditulis dalam Kitab Suci. Pada abad ke-18 dan awal abad ke-19, lagulagu pujian dari Watts, Wesley mulai diterima di gereja-gereja di Inggris. Sangat menarik untuk dicatat bahwa pada awal sejarah AS, antara tahun 1620-1820, hanya satu lagu yang digubah komposer AS yang masih dapat ditemukan dalam buku nyanyian dewasa ini. Lagu tersebut I Love Thy Kingdom, Lord ditulis oleh Timothy Dwight.

Mungkin Salah satu bentuk nyanyian yang berbeda yang disumbangkan dalam khazanah lagu-lagu pujian di AS ialah dengan munculnya lagu- lagu Injil (gospel songs). Orang banyak mengatakan bahwa lagu-lagu Injil berasal mula dari lagu-lagu spiritual dan Sekolah Minggu dari abad ke-19. Lagu-lagu Injil memperoleh dorongan yang nyata dalam masa paruh kedua abad ke-19 dengan usaha penginjilan yang dilakukan oleh D.L. Moody dan Iran Sankey.

IX. Suatu Pandangan ke Masa Lalu, Masa Sekarang, dan Masa Depan

Suatu studi tentang masa yang silam mengungkapkan, bahwa gereja Kristen telah mewarisi kekayaan musik sepanjang abad Baru sumber-sumber seperti: terjemahan dari lagu-lagu pujian Yunani dan Latin, lagu pujian dan nyanyian untuk paduan suara dari periode Reformasi; nyanyian mazmur metrikal yang dimasukkan Calvin, Marot, dan penyanyi mazmur pada zaman itu; lagu lagu pujian Watts, Wesley yang mengandung unsur “ketenangan manusiawi” dan komposer abad ke-17 dan 18 lain yang memiliki ajaran doktrin yang kuat, musik-musik Injil dari abad ke-19 dan ke-20, terutama sangat berguna untuk usaha penginjilan dan akhir abad ke-19 dan ke-20 dengan penekanan kuat pada tingkah laku kristiani dan tanggung jawab social terhadap Injil. Sebuah lagu pujian gerejawi yang baik seharusnya mewakili seluruh unsur-unsur komposisi yang baik. aesa sekarang dan ke masa depan menunjukkan banyak trend yang akan menguasai musik gereja injili. Semakin banyak sekolah Alkitab, akademi, dan seminari yang memberi penekanan dan penganjaran tentang musik gereja lebih daripada sebelumnya”.

Akhir-akhir ini semakin banyak pimpinan gereja yang tertarik untuk mengembangkan musik gerejawi. Ada beberapa seminar tentang musik. Semakin banyak gereja yang menyadari akan pentingnya paduan suara dan untuk itu persiapan memang harus dilakukan sejak usia dini, yaitu sejak di Sekolah Minggu, dan sesuai dengan kelompok usia. Selamanya, karena musik dan pendidikan memiliki hubungam erat, maka suatu program musik yang terpadu di gereja merupakan alat yang penting untuk mengembangkan suatu program pendidikan Kristen yang kuat. Tetapi, perlu kita akui bahwa masih, banyak yang harus dibenahi.

X. Kesimpulan

Kenneth W. Osbeck dalam bukunya The Ministry of Music menyatakan bahwa untuk mencapai program musik yang efektif dan utuh dalam gereja biasanya membutuhkan usaha dan kesabaran. Biasanya ada banyak kendala menghadang, seperti: kelalaian puas dengan diri sendiri, langkanya latar belakang pendidikan musik, tradisi, pra sangka. Mungkin juga seorang pimpinan musik di gereja tidak sampai melihat hasil nyata dari kepemimpinannya pelayanan musiknya di gereja.

Dan satu hal yang perlu diingat bahwa musik yang baik dan program musik yang hebat bukanlah tujuan utama dalam kehidupan berjemaat. Oleh karena itu program musik gereja harus dititikberatkan untuk menarik individu-individu kepada karya keselamatan yang sudah diberikan Kristus dan kemudian memimpin mereka kepada kehidupan Kristen yang lebih penuh dan dipenuhi Roh Kudus (TRA).

Sumber: Kenneth W. Obsek, The Ministry of Music, Kraaal Publiestinn. Grand Rseids. 1971.http://gema.sabda.org/sejarah_perkembangan_musik_rohani.

24 Maret 2010 - Posted by | Sejarah Perkembangan Musik Rohani | ,

2 Komentar »

  1. wah keren artikel nya, menambah pengetahuan nih :D

    Komentar oleh artikel kristen | 26 Juni 2010 | Balas

  2. Saya sebagai pemerhati musik gereja sangat diberkati dengan artikel….

    Terimamasih, Tuhan Yesus memberkati.

    Saya sangat berharap, baik di dalam segala kemampuan dan juga di dalam segala kekurangan, marilah kita terus berjuang untuk meningkatkan pelayanan musik kita di dalam gereja Tuhan, supaya setiap jemaat yang datang, bisa bertemu dan merasakan kehadiran Tuhan di dalam setiap kebaktian kita.

    Komentar oleh dame | 22 Juli 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 114 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: