pindah ke www.musisigereja.com

Blog ini sudah dipindahkan ke www.musisigereja.com

Kemanakah Perginya Musisi Gereja?

“Apakah kakak bersedia membantu pelayanan di gereja kami untuk hari minggu besok?, soalnya kami hanya memiliki satu orang organis, dan saat ini beliau sedang sakit…”

Sungguh ironis, karena hal ini hampir dialami oleh setiap gereja, bahkan hampir setiap minggunya kita hanya melihat orang yang sama yang duduk di belakang papan keyboard…., lantas – bagaimana dengan gereja yang ada di daerah terpencil? …tidak dapat terbayangkan… dan saya memiliki 2 pertanyaan yaitu :

– Apa peran mereka (pemusik) dalam ibadah?
– Kemanakah perginya musisi gereja?

Sekian lama, hal ini menyebabkan perang dalam hati kecil saya… semoga gagasan penulisan artikel yang sedikit mengkritisi hal ini, dapat menjadi wadah komunikasi yang diharapkan dapat meminimalisir kesalahpahaman yang mungkin saja sedang atau belum terjadi.

Sejauh pengamatan saya, cukup banyak diantara sekian jemaat / umat, yang sebenarnya ingin sekali melayani sebagai pemain organ/keyboard/piano di Gereja mereka, tetapi apa sebenarnya yang menjadi kendala mereka? Dengan alasan inilah saya memcoba mengumpulkan sejumlah pernyataan dari mereka yang memendam keinginan tersebut, antara lain :

  1. Saya mau, tapi tidak tau cara mengiringi…
  2. Aduh… saya tidak percaya diri (karena hanya tau sedikit cara main kibor)…
  3. Saya bisa bermain kibor, tapi hanya tahu akord-nya saja…
  4. Saya bisa main sih, tapi saya harus latihan dulu…
  5. Wah… kalau langsung disuruh main sambil baca not angka, saya tidak bisa…
  6. … (pikir sendiri apa kendala anda)

Namun, terdapat pernyataan dari sisi yang berlawanan, antara lain :

  1. Ah… sudah ada si “A” kok, ngapain cari orang lagi, dia kan jemaat/umat disini, sudah seharusnya melayani disini…
  2. Ah… sudah ada si “B” kok, ngapain saya harus belajar lagi…
  3. Ah… jemaat/umat sudah diberitahu (sudah membuka pendaftaran pelatihan bagi musisi gereja), tetapi tidak ada yang mau, atau tidak ada yang mendaftar…
  4. … (pikirkan sendiri pernyataan anda)

Ada pro dan kontra, lalu – apa sih masalahnya?, tidak mau? tidak diberi kesempatan?, tidak ada kesempatan?, tidak ada yang membimbing?, atau siapa yang mau membimbing?, atau… kami tidak suka dengan di “C” karena dia begini…., begitu…. dan lain sebagainya, -> silahkan pikir sendiri apa pendapat anda.

Apa peran mereka (pemusik/musisi/musik) dalam ibadah/misa?

Apa sebenarnya peranan musik dalam sebuah ibadah/kebaktian/misa dalam gereja?. Musik – dapat berupa doa, ungkapan penyesalan (tobat), rasa syukur, berterima kasih, dan lain sebagainya. Ada sebuah filosofi (silahkan direnungkan sendiri) :

Music is… a higher revelation than all wisdom and philosophy (Beethoven)

Musik, melalu musisi gereja didalam sebuah ibadah merupakan salah satu penghubung antara umat/jemaat dengan Tuhan. Mestinya, mereka menyajikan “yang terbaik” agar dapat menciptakan hubungan yang romantis antara umat/jemaat dengan Sang Penciptanya.

Faktanya adalah “ah, yang penting saya melayani”, tidak penting apakah dalam bermusik saya/kami berlaku bagus ataupun tidak, yang penting hati sudah melayani. Benar, Dia tidak melihat bagus dan tidaknya, Dia melihat ketulusan hati dalam melayani. Namun, apakah jemaat/umat dapat melihat hati kita saat melayani?, saya rasa tidak semua, tetapi apa yang dikatakan sebagian besar jemaat/umat setiap minggunya?

–  “ah, ibadah kali ini tidak berkesan sama sekali”

–  “minggu ini koor-nya bagus”;

–  “pelayanan minggu ini sang organis mainnya tidak karuan, lebih bagus yang minggu lalu”;

–  “ibadah kali ini suasanya hidup sekali” atau “jelek sekali

–  dan… lain sebagainya.

Hehehehe orang pergi ke Gereja untuk mengikuti ibadah? atau mengomentari khotbah sang pendeta/pastor?, pemain musik?, dan petugas gereja lainnya yang dirasanya tidak berkenan?😀 termasuk saya (maaf jangan tersinggung).

Nah, ketika kita bermusik termasuk dalam kategori jelek (jelek bagi setiap orang berbeda), apakah kita sebagai musisi gereja sudah menjadi penghubung yang baik?. Bagi telinga orang awam, hal ini mungkin tidak dipermasalahkan, tetapi ini menjadi beban bagi mereka sendiri atau mereka yang mengerti akan musik.

Kategori bagus / jelek dalam hal ini jangan dibandingkan dengan musisi profesional. Kategori “Bagus” disini memiliki arti : bisa berjalan dengan baik tanpa tersendat-sendat, atau tidak terdengar seperti “asal” mengiringi (terlepas dari rasa grogi dan lain sebagainya😀 ). tentunya hal ini membutuhkan proses.

Lantas…, kemanakah perginya musisi Gereja?

Tidak, mereka tidak kemana-mana, mereka hanya “diam” mengikuti pergelutan yang terjadi, kenapa?, dunia sekarang semua serba instan, tidak mau repot, serba cepat, mahal, harus bisa, dan lain sebagainya. “Mereka yang memiliki kerinduan melayani” tidak bisa seperti itu, kasarnya begini : kalau mau, ya beli aja mi instan, 15 menit udah siap saji… => bayar aja pemain musik profesional, 1 jam-pun 10 buah lagu siap di-iringi (maaf … jangan dimasukkan didalam hati yaa, ini hanya sekedar kritik untuk membangun🙂 piss).

Setua atau sepandai apapun mereka, mereka tetap butuh persiapan dan bimbingan. Tetapi disini, mereka membutuhkan motifator dari tiga  sisi, dari luar (orang lain/pelatih), dari dalam (memotifasi diri sendiri), dan dari pihak Gereja. Ketiga sisi ini harus berimbang, sebab jika hanya bertepuk sebelah tangan, maka – kasarnya saya katakan begini : bisa jadi selama 6 bulan mendapat bimbinganpun – dia hanya bisa menguasai “1 buah lagu”.

Bagaimana dong kalau begitu?

Komunikasi. – ini merupakan hal terpenting yang perlu dibangun dalam sebuah komunitas. Akibat pengetahuan lebih yang dimiliki seseorang dari sesamanya, atau status usia yang lebih tua, komunikasi menjadi hal yang kurang dilakukan sehingga dapat berpengaruh negatif bagi orang sekitar (termasuk yang memendam keinginan untuk melayani), dan akhirnya kita “malas” berkomunikasi.

Pengorbanan waktu dan tenaga dari ketiga belah pihak, dari pelatih musik, mereka yang memendam keinginan untuk melayani, dan dari pihak gereja (pengurus, bagian liturgi, dll).  Sebab yang sering terjadi adalah pengibahan tugas/saling mengharapkan.

Waspada, disini bisa terjadi kesalahpahaman. Antara komunikasi dan pengorbanan menjadi satu bagian, dan ketiga belah pihak disini-pun adalah “satu”. Apa gunanya punya Hand Phone tetapi “malas” memberi tahu rekan kita seperti : kapan latihan, lagu apa saja yang akan dipakai buat ibadah besok, dan lain sebagainya. Sebab ada sebagian Gereja yang hanya mengharapkan pengumuman setiap usai ibadah, untuk memberitahukan sejumlah informasi. Menurut saya ini kadang kurang efektif, maka disinilah komunikasi dan pengorbanan sedikit dituntut lebih.

_______________________________________________________________________

Tulisan ini adalah fakta yang saya kumpulkan. Ini bukan lagi perbincangan baru dalam komunitas Gereja, ini adalah bagian kecil yang seringkali “dianggap sepele”. Akan tetapi, bagaimana kita bisa melakukan hal besar jika hal sepele ini tidak bisa kita atasi?. Jangan jadikan ini sebagai bahan perdebatan yang tidak sehat, tetapi jadikan perbincangan ini sebagai motifasi untuk menjadi lebih baik.

God Bless You

Hormat Saya

Ruland

26 Maret 2010 - Posted by | Kemanakah Perginya Musisi Gereja? | , , , , ,

25 Komentar »

  1. Terima kasih atas artikelnya yg membuka pandangan kami menjadi lebih luas.
    dari pengalan yg saya temui, tidak banyak gereja yg melakukan aktifitas sosialisasi & pembinaan rutin untuk membentuk & melatih kelompok musik gereja, baik dalam bidang organist, pianist, pemusik, song leader & paduan suara.

    pada umumnya, gereja “membebankan” tugas ini kepada orang2 yg telah lebih dulu melayani, dan selalu begitu.
    di beberapa gereja yg pernah saya temui, belum pernah ada agenda khusus untuk pembinaan musisi gereja, sebagaimana yg telah dilakukan pada pelayan anak, majelis jemaat, dll. sehingga membuat rantai regenerasi pemusik menjadi terputus.
    sudah saatnya pihak/lembaga gereja memperhatikan ini secara serius.

    selamat melayani, Tuhan memberkati.

    Komentar oleh hamba Tuhan | 26 Maret 2010 | Balas

    • Syalom…., Terima kasih… Tuhan memberkati

      Komentar oleh ruland | 3 April 2010 | Balas

  2. pace ko andalan sampe…
    jan lupa mandi eee….
    inilah salah satu contoh orang musik yg melek IT..
    ko batu sampe… makan papeda talalu banyakkah ?..
    wkekkeekee…..
    JBU

    Komentar oleh jon tralala | 8 April 2010 | Balas

  3. saya sepakat dengan hamba Tuhan.

    harus digarisbawahi bahwa kebanyakan gereja saat ini berlindung di dalam kuasa kata ‘pelayanan’ sehingga menomorduakan pembinaan yang terstruktur dan berkualitas bagi musisi gereja.
    Dan lagi banyak gereja di jaman sekarang tidak lagi mau untuk menginvestasikan dana jemaat untuk musik. Di jaman barok, banyak musisi dipekerjakan gereja untuk terus berkarya dan mencipta musik, contoh saja JS Bach. Tapi sekarang, gereja manakah yang memaintain komitmen seperti itu? jarang sekali…

    Komentar oleh mikebm | 13 April 2010 | Balas

    • Bang Mike, saya sependapat…, sejauh perjalanan saya selama 8 tahun terakhir, sy baru menjumpai kurang-lebih sekitar 4 gereja (seingat saya) yang cukup serius memperhatikan kualitas musisi gerejanya, sehingga rasa antusias dan keaktifan mereka nampak jelas dalam kegiatan apapun yang diselenggarakan oleh gereja.

      Komentar oleh Ruland | 25 April 2010 | Balas

  4. sebelumnya saya mengucapkan terimah kasih atas artikel ini…
    perkenalkan saya juga seorang kibordis dari gereja di surabaya….
    masalah saya adalah:: pengetahuan saya ttg lagu2 gereja sangat minim…blom lagi klo ada yg tiba2 minta diiringi nyanyi solo yg lagunya blom pernah dengar, inilah yg membuat saya gak PD melayani di gereja…. dan biasanya saya menolak bermain hny gara2 takut dengan lagu2 baru😀

    saya minta saran dan masukan dari saudara2, dan teman2 dsini…. terima kasih GBU

    Komentar oleh ILo_betgor | 20 April 2010 | Balas

    • saya dari paroki Keluarga Kudus, Rawamangun. Doa lama saya baru dikabulkan Tuhan, memohon datangnya pelayan liturgi. tiba-tiba ada seorang gadis yang datang ke sekretariat gereja dan berbicara “Saya ingin mengiringi koor di gereja, tapi ini pengalaman pertama saya dan saya tidak tahu harus mengiringi siapa”. Beruntunglah saya dekat dengan orang sekretariat, jadi si gadis langsung dikenalkan dengan paduan suara saya.
      Setelah melihat kendala dan potensi sang organis baru, saya memutuskan untuk memperbanyak frekuensi latihan. Dan saya berikan banyak materi baik itu MP3 atau video download tentang lagu-lagu liturgi.
      Dan apabila tidak ada materinya, saya akan menyanyikan terlebih dahulu, untuk kemudian bersama-sama menyamakan pemahaman konteks dan isi lagu yang akan dilatih.
      Tentu hal ini memakan waktu dan tenaga, tetapi ini merupakan salah satu jalan untuk kita dapat menanamkan rasa percaya diri pada organis

      Komentar oleh beng bakarbessy | 30 Mei 2010 | Balas

      • Syalom, saya dulu umat paroki keluarga kudus rawamangun, skrng saya sdh melayani di Gereja Tiberias Klp. Gading. thn 1990 s/d thn 2004 saya salah satu organis di paroki tersebut, tempat tinggal sy masuk wilayah elizabeth.
        menurut pribadi saya, pelayan liturgi di gereja ini amatlah sangat kurang dihargai, jd kemungkinan msh bnyk umat yg enggan utk melayani. beda sekali dng pelayanan yg di Gereja Tiberias utk seluruh kawasan di Indonesia, koordinator setempat hingga pusat sangat perhatian, menghargai semua pelayan jemaat dari penerima tamu, choir, pemain musik, song leader / pemimpin pujian.
        ini mungkin bisa menjadi masukan utk gereja lainnya.

        Komentar oleh Evelyn | 8 Juni 2011

  5. terima kasih atas commentnya

    Komentar oleh eko prasetyo | 26 Juni 2010 | Balas

  6. …selama ini kita hanya berputar-putar dengan skill dan pengabdian dalam pelayanan. namun sempatkah kita berpikir tentang bagaimana di saat kita menjadi imam dalam pelayanan apapun apakah kita sudah menghadirkan Tuhan atau Justru kita menjadi penghalang dalam kehadiran Tuhan. emg sich Tuhan ga’ bisa dibatasi oleh pagar ato gedung apapun. Tapi ada tembok yang paling tebal yaitu kesiapan hati kita untuk menjadi “Imam Pelayanan dalam ibadah”

    Komentar oleh samuel tendean | 27 Juni 2010 | Balas

  7. Kita harus mampu menyadari bahwa musik bukanlah yang utama dan terutaman di dalam ibadah Kristen. Tetapi sejak musik masuk di dalam ibadah/kebaktian Kristen, musik tersebut menjadi berperan penting untuk mengajak jemaat bertemu dengan Tuhan.

    Karena itu, setiap orang yang terpanggil untuk melayani Tuhan dan jemaatnya di dalam pelayanan musik, haruslah memperhatikan hidupnya juga, supaya tetap hidup di dalam kekudusan yang dari Tuhan.

    Ingatlah, bahwa bukan kemampuan bermain musik yang diperlukan gereja, tetapi keteladanan hidup juga.

    Saya sebagai pemain musik gereja sangat memperhatikan hal ini. Jika seorang pemusik bermain musik di dalam hadirat Tuhan, maka Tuhan berkenan dan dapat menggunakan musik tersebut untuk menolong orang bertemu dengan-Nya.

    Untuk semua rekan pemusik di manapun anda berada, tetaplah berjuang untuk melayani Tuhan dan melayani umatnya melalui pelayanan musik yang Tuhan percayakan kepada anda.

    Tuhan Yesus memberkati.

    Komentar oleh dame | 22 Juli 2010 | Balas

  8. memang, saya melihat gereja sekarang sangat tidak punya visi tentang musik. bahkan di jakarta pun begitu, apalagi di daerah. Masih beruntung jakarta banyak pemusiknya, gmn dengan daerah. Yang saya perhatikan adalah anggapan bahwa pemusik itu adalah sesuatu yang mahal, butuh latihan khusus, investasinya lama, sehingga kalaupun gereja mengadakan semacam lokakarya atau pun kursus musik tuk warga jemaatnya, gereja hanya mengadakannya sekali saja dan sangat jarang frekuensinya. Harap maklum, hasilnya memang tidak secepat seminar teologi.

    Saya juga sebagai organis gereja sangat sedih melihat hal ini. Sehingga pernah terlintas di benak saya kalau saya akan baru melayani di suatu gereja kalau pemusiknya memang banyak, kalau tidak, akan habis2an melayani disitu. Beruntung kalau suaranya diperhatikan, yang ada malah tenaga yang diperas dengan alasan pemusik tidak ada lagi n pelayanan lah n komitmen n dll. Memang itu bisa dimaklumi, tetapi yang membuat saya heran adalah ketika ada pun dapat satu pemusik, nyaris tidak ada semacam pencarian bibit baru di lingkungan gereja. Atau lebih parah lagi, masa bodoh dengan regenerasi, kan sudah ada si dia. jadi lah pemusik gereja itu menjadi sapi perahan. Mending jadi pendeta yang digaji, ini tidak ada sama sekali dengan alasan pelayanan. Lha, kalau begitu siapa yang mau berminat menjadi organist gereja?

    Nyaris pernah saya malah menjadi rebutan bagi gereja2 lain, walaupun gereja tersebut 1 organisasi.Bukannya bangga, tetapi dalam 1 kota bisa dihitung organist yang mau melayani n siap pakai.

    Bahkan pernah saya melayani di gereja, dalam 5 tahun tak ada sekalipun usaha untuk regenerasi. majelis sudah puas dengan adanya saya sambil berharap komitmen saya dengan sepenuh hati sementara mereka hanya angkat2 kaki di sanjung jemaat.

    jujur, sejak awal saya sudah memantapkan diri untuk menyerahkan semua keahlian saya sebagai organist, tetapi bukan seperti ini yang saya mau. Saya sangat berhasrat bagaimana jika musik di gereja indonesia penuh dengan alat musik. Ga usahlah jauh2 seperti twilite orchestra, minimal ada 2 organ saja sudah cukup.

    saya juga sangat heran dan tidak habis mengerti kepada musisi di tanah air yang kristen, disatu sisi habis2an ngeband, tapi tutup mata terhadap perkembangan musik gereja. memang saya tidak bisa menyalahkan kalau pihak gereja sendiri pun sudah puas dengan jumlah jemaat yang banyak. Tetapi kalau tidak ada solusi, bisa dibayangkan akan menjadi seperti inilah terus nasib musik gereja.

    Jujur, saya sangat iri kepada pemusik gereja karismatik, dimana mereka sangat disupport habis2an, beda jauh dengan gereja protestan. Tapi memang dasar musik karismatik yang ngepop beda dengan protestant yang hymn, sehingga sulit disatukan

    Mau sampai kapan musik gereja akan terus begini?? kemana perginya para hamba tuhan??apa musik gereja bukan pelayanan? apa pelayanan itu hanya khotbah? guru sekolah minggu? saya hanya bisa berdoa

    Komentar oleh joshua hutagalung | 11 Agustus 2010 | Balas

    • inilah akibatnya kalau kata : ‘memberi yang terbaik’ tidak diimplementasikan di segala bidang dengan pikiran yang holistik.

      Komentar oleh samuel | 19 Desember 2010 | Balas

  9. Shalom Saya masih ada disini, sebagai musisi Basis atau keyboardis,saya tinggal di jakarta timur jika masih di butuhkan untuk membantu pelayanan di Gereja anda telp saya 021 99497935,
    Motto: Belajar dan Belajarlah Untuk memberi yang terbaik KepadaNya. GBU all……..

    Komentar oleh bran | 12 Agustus 2010 | Balas

  10. shalom. saya memang melihat fenomena ini terjadi hampir di semua gereja injili (terutama) dan saya sebagai orang injili terbeban untuk melakukan sesuatu. Jikalau ada yang membutuhkan pelatih atau pemain piano/organ, bisa menghubungi saya dan kita bisa berbicara lebih lanjut untuk kemuliaan nama Tuhan. Saya bisa dihubungi di yongtos2005@gmail.com.

    Komentar oleh samuel | 16 September 2010 | Balas

  11. trimakasih saudara atas artikelnya

    Komentar oleh arnold silaban | 21 April 2011 | Balas

  12. memang benar…masih banyak gereja-gereja yang kurang menghargai peranan musik dalam ibadah. saya sangat diberkati dengan komentar-komentar yg lain… SANGAT MEMBERKATI. kiranya ini boleh membuka mata dan pikiran serta pemahaman pendeta-pendeta dan majelis-majelis yg belum mampu menghargai akan peranan musik dalam Ibadah.

    Komentar oleh Martin Campa Sau | 4 Mei 2011 | Balas

  13. Gereja mungkin harus kembali menggali Alkitab lebih sungguh dan mengeksposisi bagian-bagian yang begitu BANYAK berbicara tentang musik di dalam ibadah secara khusus peranan, kepentingan, dan keseriusan nya dalam ibadah. Ini penting agar jemaat sadar bahwa musik memiliki peran besar dalam ibadah dan pengajaran. Musik bukan hanya untuk memuji Tuhan, tapi juga sebagai alat pengajaran Firman Tuhan yang berguna untuk pertumbuhan iman jemaat.
    Lihat saja liturgi kita berapa % musik dimuat? Hampir sebagian besar! Kalau ditanyakan kepada pendeta/majelis/penatua, para musisi/penyanyi gereja, dan jemaat apakah musik begitu penting dan signifikan dalam ibadah gereja? Saya yakin jawabannya semua positif dan bahkan sangat penting (karena mustahil mereka menghapus aktivitas bernyanyi dalam susunan liturgi). Tapi heran, aplikasi dari pernyataan musik penting di dalam ibadah tidak berbanding lurus dengan tindakan yang diambil oleh 1) Pendeta/Majelis: berapa besar pemikiran dan alokasi dana (“Alkitab berkata di mana hartamu berada, di situ hati mu berada”) untuk pembinaan/pengembangan dan pengadaan alat musik? alhasil selalu tidak prioritas!; 2) Para musisi/penyanyi gereja: seberapa serius mempersiapkan pelayanan musik yg akan kita kerjakan dan seberapa maksimal? alhasil lebih serius dan maksimal kalau mau lomba (mis. PESPARAWI) atau mau konser; oleh jemaat: seberapa bergairah dan antusias bernyanyi di dalam ibadah, di mana Pendengar/Penontonnya adalah ALLAH TRITUNGGAL? alhasil kurang antusias dan semangat ketimbang nyanyi di luar gereja (mis. nyanyi untuk acara pernikahan, undangan dari pejabat atau nyanyi di kamar mandi!)
    Semua harus mengkoreksi diri! dan oleh sebab itu kita harus bertobat! kembali kepada ajaran Kitab Suci: bahwa musik berperan signifikan dalam ibadah dan pengajaran bagi kemuliaan nama Tuhan dan kesehatan rohani jemaat. Martin Luther berkata: “Setelah theologi, saya menempatkan musik sebagai prioritas utama dalam gereja!”

    Komentar oleh Jeckron Lubis | 18 Juni 2011 | Balas

    • saya sangat sepakat dengan apa yg saudara katakan…pelayanan musik tidak lagi mendapat perhatian yang serius dari para “pejabat” gereja..tetapi tuntutan bagi para musisi gereja untuk menampilkan yang terbaik terlalu tinggi,,,ironis. salam

      Komentar oleh santo sapan | 18 Januari 2012 | Balas

  14. Syallom..
    sebelumnya saya sangat bersyukur atas terbitnya artikel ini
    saya jg adalah seorang pelayan musik pada gereja saya. salah satu hal yang menjadi masalah dalam pelayanan musik gereja menurut pandangan saya dan melihat dari kenyataan yang terjadi bawa pelayanan musik gereja masih belum menjadi prioritas dalam pelayanan gereja. pelayanan musik gereja seringkali masih “dianak tirikan”,,sehingga penanganan yang dilakukan oleh pihak gereja pun hanya bersifat seperlunya saja. yang menjadi masalah kemudian adalah gereja menuntut pelayanan musik untuk dapat maksmal sementara kegiatan maupun kebijakan yang bersifat membangun para musisi gereja sangat minim. sungguh sebuah ironi. salam

    Komentar oleh santo sapan | 18 Januari 2012 | Balas

  15. syalom…
    salah satu masalah dalm musik pujian adalah dimana,keterbatsan alat musik sound system yang kurang di perhatikan,sperti gangguan pda kabel atau sound nya yg mungkin sudah tua dan harus di ganti,tapi masi saja dipaksakan.hal seperti ini banyak saya dapatkan di greja2.r
    kbnyakan pdt nya kurang memperhatikan alat2 yg tidak layak dipakai,
    masa untuk Tuhan kok kita harus ngasi yg seharusnya gk pantas.
    ini terkadang membuat mood kita bermain musik jadi terganggu,
    kalo sesekali si gpp,tapi setiap minggu dari tahun ke tahun kita harus repot dengan hal kecil ini.tolong buat para pdt yg punya gerja hal ini harus diperhatikan,ALAT ALAT MUSIK TOLONGLAH DISET DENGAN BAIK..agar kita yg melayani juga lebih enjoy karna gak ada bunyi yg aneh entah dari kabel, speker,mic,alat band dll.syalom

    Komentar oleh rudy | 22 Oktober 2012 | Balas

  16. perhatikan kami yang melayani juga

    BUKAN JEMAAT YANG KAYA SAJA YANG DIPERHATIKAN..
    GBU….

    agar kami tidak mencari greja yang mau memperhatikan kami..ibarat tentara yang siap tempur

    Komentar oleh koko | 22 Oktober 2012 | Balas

  17. Syalom…
    Punya koleksi midi Kidung jemaat gak?
    Kalau punya tolong kirimin aku dong, aku udah nyari-nyari tapi sampai sekarang belum dapat-dapat.
    Terima kasih sebelumnya, Tuhan memberkati

    octavianus.s.lomban@gmail.com

    Komentar oleh octavianus s. lomban | 8 Januari 2013 | Balas

  18. adakah yang memiliki buku atau materi seminar atau skripsi atau tesis yang membahas tentang musisi gereja. saya sangat berterima kasih kalau ada yang bisa membantu. saya sangat memerlukannya untuk penulisan tesis saya. terimakasih sebelumnya, salam musisi gereja.

    Komentar oleh christian gasong | 23 Januari 2015 | Balas

  19. […] Musisigereja.Wordpress.Com – Kemanakah Perginya Musisi Gereja […]

    Ping balik oleh Kemanakah Perginya Musisi Gereja? « Simple Gift | 30 Mei 2016 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: