pindah ke www.musisigereja.com

Blog ini sudah dipindahkan ke www.musisigereja.com

MASALAH MENDASAR MUSISI GEREJA

MASALAH MENDASAR MUSISI GEREJA

Oleh. Samuel Santoso : yongtos2005@gmail.com

Saya sebagai musisi gereja ingin share mengenai sesuatu yang baru saja saya alami dan ini bukanlah yang pertama kalinya. Mungkin ini yang ke ribuan kalinya saya alami. Dan saya bersyukur ada blog ini sehingga saya dapat menuangkan uneg-uneg saya. Artikel ini saya tulis bukan untuk memojokkan seseorang atau profesi tetapi semata untuk koreksi dan kemuliaan nama Tuhan (bukan jargon tetapi tindak nyata, karena kata ‘bagi kemuliaan Tuhan’ sering hanya jargon yang indah di mulut).

Siapakah sebenarnya seringkali menjadi masalah dalam memajukan musik gereja? Jujur saja, hamba Tuhan dan majelis.

Ini terlepas dari ada tidaknya musisi di gereja tersebut. Yang saya alami adalah bagaimana pemilihan dan pemberian lagu sangat disepelekan, apalagi latihan bersama. Bagaimana gereja bisa maju? Gladi resik jam 6 malam, tetapi lagu sampai jam 12 siang pun belum dikasih. Padahal jadwal penatalayan sudah ada dari beberapa bulan yang lalu. Hamba Tuhan yang bersangkutan berjanji akan memberikan lagunya, tetapi tidak direalisasikan. Akhirnya saya mengundurkan diri saja sebagai pianis (daripada malu dan saya tahu Tuhan tidak suka).

Ini adalah salah satu contoh saja. Contoh lain yang seringkali terjadi adalah bahwa khotbah dianggap lebih penting (memang sih). Tetapi musik tidak kalah pentingnya.

Banyak sekali, mayoritas hamba Tuhan tidak peduli dengan musik. Cukup hanya khotbah yang diutamakan. Program di gereja pun musik nomor yang kesekian. (Sekali lagi saya berbicara dari perspektif gereja Injili sebagai latar belakang saya dibesarkan).

Bila tidak mempedulikan, maka yang terjadi adalah saat ini banyak gereja Injili berstatus tidak jelas. Musiknya hymn tetapi karena ketakutan anak mudanya pindah gereja, maka lagu kontemporer mulai dimasukkan. Hanya itu saja. Pelatihan tidak ada tetapi mengharapkan hasil maksimal. Tidak ada seminar musik yang di tindak lanjuti dengan mengkader jemaat. Semua hanyalah kalender kegiatan tahunan yang berlalu begitu saja.

Tolonglah. Mari kita realistis. Kalau kita bekerja dalam suatu organisasi, apakah mungkin mendapatkan hasil maksimal kalau kita tidak sungguh-sungguh? Kalau sekadarnya saja?

Give the best to The Lord haruslah diwujudkan dalam tindakan. Bukan slogan. Termasuk berani merombak konsep – konsep yang salah, baik konsep mengenai diri maupun hal lainnya. Everything just for glorify The Lord.  Bagaimana menurut Anda?

24 Desember 2010 - Posted by | MASALAH MENDASAR MUSISI GEREJA

12 Komentar »

  1. yang dialami saudara Samuel S sama dengan yang terjadi pada diri saya juga ,banyak sekali hamba Tuhan,Pemusik,bahkan Pemimpin Pujian/ibadah kurang memperhatikan apa itu Hymne dan fungsi dari pada Musik Gereja,padahal atas dari Musik juga Tuhan Allah menjadikan /menciptakan manusia sebagai pemuji dan penyembahNya ketika Si Lucifer jatuh dalam kesombongannya dan di buang ke bumi.Saya berharap para musisi gereja beserta hamba-hamba Tuhan bisa merubah paradigmanya ,bahwa musik adalah UJUNG TOMBAK untuk menghancurkan tembok2 dan benteng-benteng si jahat…..(iblis.red).Amin…..semoga berguna….GBU

    Komentar oleh PetChan | 25 Desember 2010 | Balas

    • bgm cr ubah paradigma?

      Komentar oleh samuel | 6 Januari 2011 | Balas

  2. Sering sekali seorang musisi/organis dianggap mampu untuk memainkan sejumlah lagu pujian dalam tempo sekali dengar / sekali baca (not angka)/ mampu mengikuti meskipun tanpa latihan…

    Kalau saya pribadi, selalu meminta daftar lagu satu minggu sebelum ibadah, meskipun lagu-lagunya sudah saya kenal dan bisa…
    Semua butuh persiapan… tanpa diberikan daftar lagu, saya tidak akan mengiringi…

    Disatu sisi saya merasakan diri sebagai manusia yang egois…

    Disisi lain, saya sebagai manusia yang egois ini memiliki banyak sekali pertanyaan, beberapa diantaranya :

    01. Apakah hamba Tuhan tidak membuat persiapan ketika hendak memberikan khotbah?

    02. Apakah yang melayani di Gereja itu hanyalah hamba Tuhan, musisi tidak?

    03. Apakah musisi tidak perlu latihan?, toh kan hanya menyanyi dan mengiringi, yang penting melayani… betulkah hanya sebatas itu?

    04. Sekarang, kenapa lagu lagu pop Rohani lebih banyak dirindukan untuk dinyanyikan dibandingkan lagu ibadah / himne didalam liturgi gereja?

    Komentar oleh Ruland | 31 Desember 2010 | Balas

    • menjawab pertanyaan pak ruland :
      1. HT persiapan bahkan sangat dipuja. pemusik dianggap sampingan. Ini ketimpangan wawasan yang umum terjadi dan sangat memprihatinkan saat ini.
      2. Semua pelayan, bahkan penyambut dan kolektan, sampai koster gereja juga pelayan.
      3. Di sekuler, latihan wajib agar maksimal perform. Apakah di gereja cukup seadanya karena anugrah yang berlimpah dan maha kasihnya Tuhan? Jangan sampai Tuhan muak dengan pelayanan kita yang ala kadarnya. Belum lagi terkait soal bagaimana melayani sebagai musisi tidak mendapat honor sama sekali, bahkan terimakasih atau ongkos transport (pelayanan pribadi).
      4. Karena penyajian yang tidak serius saja. Bukan salah lagunya.

      Pertanyaan saya : what next? Apa yang bs kita lakukan untuk melakukan perubahan?Ini beban hidup saya. Ada usul? We must do something.Not just arguing and chatting.

      Komentar oleh samuel | 6 Januari 2011 | Balas

      • Bagi saya, seorang pemain musik tidak akan meninggalkan gereja lokalnya ketika dia mengerti arti dari “PELAYAN MUSIK DALAM GEREJA LOKAL”

        Komentar oleh Rudy | 2 Juni 2013

  3. Hal yg anda alami serupa dengan kami, memang jika Gereja Aliran Pantekosta, kebanyakan dikendalikan secara pribadi oleh pemilik sahamnya beserta keluarganya.jika mereka sdh terlanjut duduk sbg pemain musik dan umur sdh dimakan waktu (tua) mereka tetap pemain musik susah digantikan dan permainan musiknya tetap irama tempoe doloe. ini tdk bisa membawa kemajuan di Gereja

    Komentar oleh eef | 17 Januari 2011 | Balas

  4. musisi gereja nggak seperti musisi lain..nggak sembarangan,perlu persiapan matang..tp seringkali hal ini dianggap sepele,padahal bergereja g sekedar bgmn kita menyimak dan melakukan Firman,,pujian yg kita naikkan itu merupakan suatu bentuk Firman yg “dinamis”..maksudx adalah Firman yang dilantunkan u/ kemuliaanNya..

    Komentar oleh ryan | 23 Februari 2012 | Balas

  5. Bagi sebagian pemimpin pujian sering menganggap enteng dalam hal persiapan bagi pemusik, bahkan kadang mereka baru memberikan susunan lagu sesaat sebelum ibadah…, pengalaman pribadi sih…, mungkin bagi yang sudah pengalaman hal ini tidak masalah tapi bagi sebagian yang masih berkembang kadang terasa menjadi beban bagi mereka.

    Latihan dan pembentukan format musik baku untuk setiap lagu sangat penting bagi team pemusik yang sering terjadi perputaran pemain. Sehingga keharmonisan tetap terjaga. latihan yang konsisten dan jam latihan yang cukup akan membuat kesehatian dalam bermain musik semakin erat.

    Untuk pemimpin pujian yang kadang kurang persiapan dalam menyusun lagu alangkah baiknya memilih lagu yang sudah benar-benar dikuasai oleh team musik.

    Team Pemusik bisa menyiapkan lagu berdasarkan
    – Tema Khotbah : Sukacita, Penghiburan, Pertobatan, Bersyukur, Pemulihan, Doa, Roh Kudus, Misi, Pelayanan, Mujizat & Kesembuhan, Iman, Kesaksian, Pertolongan dan Perlindungan Tuhan dan seterusnya.
    – Season (Natal, Paskah, Kenaikan Isa Almasih,…….)

    – Berdasarkan kumpulan daftar lagu yang pernah di mainkan sebelumnya yang dinilai baik dan sesuai dengan tema. (bisa dilatih bersama di luar latihan persiapan ibadah atau setelah latihan persiapan ibadah).

    Setiap Pemimpin pujian mempunyai karakter dan Kebiasaan dalam memilih lagu untuk Ibadah…, ada yang senang memberikan lagu2 baru disetiap Ibadah yang dipimpinnya ada juga yang senang memilih lagu yang lama atau yang menjadi lagu2 favoritnya. Untuk tipe pertama perlu komitmen untuk latihan dan persiapan yang cukup agar tercipta keharmonisan yang baik juga.

    Tuhan Yesus Memberkati !

    Komentar oleh Ben | 9 Maret 2012 | Balas

  6. Melihat thread ini saya tidak bisa menghentikan diri saya untuk tidak berkomentar.

    Saya mungkin bisa dibilang masih hijau dalam menjadi musisi gereja, apalagi jika di lihat di gereja saya masih banyak yang lebih senior dibandingkan saya. Tetapi saya punya satu pandangan tersendiri terhadap musik gereja (mungkin karena dipengaruhi oleh didikan klasik). Menurut saya musik gereja punya satu kekuatan lebih dibandingkan dengan musik biasa yang kita dengar. Entah dari pemilihan chord atau dari cara penyusunan melodi, tetapi efek yang dirasakan oleh pendengarnya sangat kuat.

    Mungkin sedikit berbeda dengan masalah yang diungkapkan, di gereja saya, karena kurangnya jumlah organis dan pianis, entah kenapa semua orang yang ‘bisa’ main alat musik kemudian menjadi organis di gereja. Tentu saya tidak menentang hal tersebut, tetapi, saya merasa seharusnya ada suatu standar atau pedoman yang kemudian menyadarkan semua musisi gereja agar dapat terus menjaga efek yang dihasilkan dari musik gereja.

    Seringkali saya mendengar istilah ‘yang penting pelayanannya, yang penting niatnya dan sebagainya’. namun apakah salah untuk memiliki keinginan agar setiap musik gereja dapat menghasilkan efek maksimal dan dapat terdengar indah setiap saat? Terkadang saya merasa pelayanan saya menjadi tidak maksimal (hal ini sangat mengganggu saya sebagai musisi, dan saya yakin semua musisi punya kepekaan ini) dan disepelekan. Oke jika kita katakan yang penting ada kemauan untuk melayani, namun saya tidak dapat mengerti kenapa orang-orang tidak dapat berpikir bahwa kita dapat memberikan pelayanan yang lebih baik dan lebih baik lagi untuk kemuliaan Tuhan.

    Demikian komentar saya, senang sekali rasanya ada tempat untuk membagi pengalaman saya.

    Komentar oleh Addi | 27 April 2012 | Balas

  7. mari tingkatkan kesadaran gereja akan fungsi prokantor, tiap gereja harus membangun prokantor agar menjadi gereja yg memuji

    Komentar oleh Aries Choky (@arieschoky) | 19 Februari 2013 | Balas

  8. Shalom Bro n Sist Yg Dikasihi NYA ! Pujian dan Penyembahan adalah ibarat bahan2 Masakan / Kurban Persembahan (Bahan Mentah,Bumbu masak,dll)> lalu kita Pemain Musik (Imam Lewi) adalah ibarat KOKI Nya,dan kita tahu kita sedang mempersiapkan Hidanganuntuk RAJA segala Raja . Jadi menurut saya,tanyakan RAJA itu Selera Nya / Kesukaan Nya yg seperti apa !!
    Jesus bless U

    Komentar oleh Silalahi | 8 Agustus 2013 | Balas

  9. apakah musik lebih penting dari lainnya?

    Komentar oleh david santosa, SE | 30 Juli 2014 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: