pindah ke www.musisigereja.com

Blog ini sudah dipindahkan ke www.musisigereja.com

Tantangan bagi Organist/Pianist Pemula

Tantangan bagi Organist/Pianist Pemula

Tulisan berikut hanya berdasarkan pengalaman yang saya alami dan saya temui. Mungkin rekan-rekan semua punya pengalaman berbeda, mohon sharing di sini, agar bisa menjadi motivasi untuk rekan-rekan yang lain.

Dimanapun stage/panggung/acara yang baru pertama kali kita hadapi, pasti ada nervous yang menyelubungi mental dan konsentrasi kita. Terlebih untuk mengiringi jemaat di ibadah (Gereja).

Beberapa hal yang sering menjadi kendala dan sering mengganggu konsentrasi pengiring adalah :

  1. Waktu yang terasa kurang untuk berlatih, terlebih apabila daftar lagu yang akan diiringi tidak didapat dalam waktu yang cukup
  2. Pemahaman lagu yang berbeda antara pengiring dan jemaat. Sebaiknya pengiring menggunakan buku lagu yang sudah mencantumkan keterangan nada dasar, tempo dan birama yang tepat.
  3. Permasalahan yang relatif paling sering muncul adalah tentang tempo (kecepatan) lagu, terkadang pengiring sudah memainkan dgn tempo yang benar, tetapi jemaat bernyanyi dgn tempo yg lambat atau tidak sesuai dengan tempo yang dimainkan oleh pengiring. Untuk mengatasi ini, sebaiknya nyanyian jemaat juga dipandu oleh seorang prokantor/kantoria/song leader. Berlatihlah terlebih dahulu dengan pemandu nyanyian.
  4. Pelajarilah dengan benar lagu-lagu yang akan diiring, jika merasa lagu tersebut terlalu berat atau belum mampu Anda mainkan, berkonsultasilah dengan Pendeta atau orang-orang terkait untuk mengganti lagu tersebut dengan lagu yang sekiranya sudah mampu Anda mainkan.

Untuk beberapa kasus, ada kejadian-kejadian yang saya temui :

  1. Lagu yang dinyanyikan adalah lagu baru di kalangan Jemaat, dan pihak Gereja hanya mencantumkan lirik/syair lagu di tata ibadah. Alhasil, nyanyian menjadi kacau, karna jemaat hanya mendengar irama yang dinyanyikan oleh pemandu lagu/prokantor. Untuk meminimalisir kekacauan ini, sebaiknya pihak gereja tidak hanya mencantumkan syair/lirik saja, melainkan melengkapinya dengan notasi lengkap lagu tersebut. Agar jemaat yang sudah mampu membaca not, bisa langsung mengetahui irama lagu tersebut.
  2. Hal ini adalah hal yang paling tidak saya sukai (menjengkelkan) : intro lagu sudah dimainkan dengan ketukan yang relatif mendekati dengan tempo/metronome yang tertulis di buku lagu, tapi di tengah-tengah permainan intro atau beberapa baris nyanyian, Pelayan Firman menghentikan lagu tersebut dan memberi instruksi untuk mempercepat/memperlambat lagu tersebut (menjauhi tempo yang telah tertulis di buku lagu yg digunakan.) dalam hal ini saya menggunakan Kidung Jemaat edisi 4 Suara sebagai buku panduan saya. Untuk hal ini sering membuat saya kesalūüėÄ hehehehehe‚Ķ dan bikin hati bertanya, koq ga ada standarisasi yah??? Ato Pelayan Firmannya yg ga tau/ tidak pernah tau/ tidak mau tau atau merasa paling tau tentang metronome lagu yang dinyanyikan dalam ibadah tersebut? Untung udah kebal, kalau yang masih benar-benar pemula, bisa jantungan dan drop banget mentalnya menghadapi instruksi dadakan dari atas mimbar‚Ķ hehehehhee‚Ķ
  3. Untuk lagu pertama dan kedua, biasanya saya akan turunkan ¬Ĺ atau 1 nada dari nada dasar yang tertulis di buku nyanyian, alasannya, karena jemaat belum pemanasan.. (hehehehe) biasanya lagu-lagu pertama bisa dirasa terlalu tinggi.
  4. Untuk beberapa ‚Äėbudaya‚ÄĚ gereja, ada yang medok harus pake sound organ baru sah. Ada yang budayanya pakai piano aja biar mantap. Ada budayanya pake band, dll. Untuk hal ini, sampe sekarang saya belum ngerti tinjauan theologisnya. Kalau dibaca secara awam di Mazmur sih, ga ada aturan baku, mau iringin pake alat dan suara apa aja untuk memuji Tuhan. Diskusikan ini terlebih dahulu dengan pengurus Gereja tempat Anda melayani.
  5. Kalau pengiringnya salah, biasanya ada aja mata jemaat yg melotot ke arah pemusiknya‚Ķ hahahahaha‚Ķ‚Ķ tapi kalau pengiringnya benar/bagus mainnya, biasanya sih jadi orang terakhir yg keluar dari gedung gereja dan nyaris ga ada yg apresiatif sama iringannya.. hehehe‚Ķ.. kasiannn‚Ķ.. santai aja‚Ķ.!!! Kita bermain untuk Tuhan, bukan untuk jemaatūüėČ

Mungkin segini dulu aja.

Intinya nikmati semua permainan musik kita, dan ingat tugas kita adalah PENGIRING, bukan pemusik pertunjukan yang memamerkan keahlian (kadang-kadang ada aja yang lupa sama hal ini).

Jadilah pengiring yang tidak mendominasi nyanyian pujian jemaat, melainkan jadilah pengiring yang mengantar dan memperindah puji-pujian tersebut.

Selamat Melayani

22 Februari 2011 - Posted by | Tantangan bagi Organist/Pianist Pemula

8 Komentar »

  1. saya ingin mengomentari mengenai alat musik dalam suatu gereja. menurut saya tidak ada yang salah. bahkan drum sekalipun. menjadi salah karena dimainkan oleh yang tidak bisa. contohnya kalau anak kecil pegangh pisau, kenapa kita ketakutan tetapi kalau koki yang pegang pisau kita malah ingin melihatnya beraksi? tetapi sekali lagi dalam suatu gereja memang ada suatu budaya dan kebiasaan. Kalau jelek sebaiknya diubah kalau bagus dipertahankan, meskipun untuk membedakannya kadang sulit dan pada kenyataannya susah mengubah status quo.

    Komentar oleh samuel | 23 Februari 2011 | Balas

  2. Saya ingin mengombentari bagian2 terakhir:

    Untuk gereja2 yg katakanlah sudah besar dan berkembang dalam hal musik, tak jarang kita terperosok kepada kecenderungan begini, apalagi kalau si pemain musik seorang jomblo dan barisan depan yg duduk cewe semua.
    Sadar ga sadar, inilah yg disebut mencuri kemuliaan Tuhan.

    Komentar oleh Leon Ravale Sianturi | 28 Februari 2011 | Balas

  3. Saya sangat tertarik dengan tulisan anda, hal yang sama juga terjadi di gereja saya GBKP (Gereja Batak Karo Kristen Protestan). Jujur saja pengiring lagu pujian di kebaktian kami masih perlu banyak belajar. Barang kali anda bisa membantu saya untuk merekomendasikan guru yang bisa memberi pelatihan musik gereja kepada kami. Saya sangat mengharapkan. Tuhan memberkati.

    Komentar oleh Masana Ginting | 23 Maret 2011 | Balas

  4. Suara apakah yang paling baik untuk mengiringi lagu pakai Kidung Jemaat.. dan bagaimana men set up nya. Gereja kami pakai Yamaha DGX 505. Tq

    Komentar oleh Manahan Sitompul | 28 Mei 2011 | Balas

  5. quote bg Leon “si pemain musik seorang jomblo dan barisan depan yg duduk cewe semua.”
    ini yang paling sering saya alami bang…hehe…rasanya gimana gitu…

    Komentar oleh Pulung Dhian Wijanarko (a.k.a mbah pulung) | 23 Juli 2011 | Balas

  6. ternyata dimana aja sama yaa kendala dan kejadian2 yang ada,,, saya juga sudah mengalami hal2 tersbut hehe,,,
    salam kenal semuanya,,,

    Komentar oleh Sukianta, F | 1 Agustus 2011 | Balas

  7. salam kenal,,, mas bro aku punya pengalaman yang mengharuskan organis senior harus bisa memainkan seluruh lagu untuk ibadah, mengapa?! saya pernah ditelpon dr gereja kira2 20 menit sebelum ibadah dimulai “tolong gantikan organis pagi ini, yang bersangkutan mendadak berhalangan hadir” .. mau ndak mau ya saya lgs loncat dr tempat tidur dan bergegas ke gereja, mandi dulu 5 menit ;p

    dari kondisi seperti ini, ada baiknya seluruh organis mengikuti persiapan yang diadakan oleh pengurus gereja (kalau ada, sepertinya harus ada) .. mungkin bisa diterapkan untuk menghadapi kendala di point 1.

    trims GBU

    Komentar oleh dhitYD | 18 September 2011 | Balas

  8. Shalom brother? Terima kasih atas sharingnya. Apa yg ditulis ttg tantangan pengiring musik gereja pemula itu benar adanya, dan saya mengalami sendiri. Saya adalah organis spesialis transpose?hehehe, tapi yg penting jemaat bisa hikmat dan sukacita saat ibadah. Benar , saya juga selalu pake KJ 4suara u patokN tempo. Tpi jemaat2 kita apalagi yg tuA. Hehehehe ngos2an ikut tempo yg benar. Oh ya saya protestan dan di gpib . Tuhan yesus memberkati

    Komentar oleh friedson | 25 Januari 2012 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: